Lebih Rendah dari Tahun Lalu, Pemerintah Tarik Utang Rp185,3 Triliun per Februari 2026

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa/Dok. Ist.

FAKTAJATENG.ID – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan realisasi pembiayaan utang pemerintah hingga akhir Februari 2026 mencapai Rp185,3 triliun.

Angka ini setara dengan 22,3% dari target APBN 2026 yang dipatok sebesar Rp832,2 triliun.

Meski angka tersebut terlihat besar, realisasi ini justru mencatatkan penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama pada Februari 2025 yang sempat menyentuh angka Rp249,9 triliun.

Kondisi Fiskal Tetap Terkendali

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menegaskan bahwa posisi pembiayaan saat ini masih berada dalam koridor yang aman dan terukur.

Strategi yang diterapkan pemerintah fokus pada aspek antisipatif terhadap gejolak pasar global.

“Pembiayaan anggaran tahun 2026 terjaga dengan baik dalam batas terkendali. Realisasinya per akhir Februari mencapai Rp185,3 triliun atau 22,3 persen dari target,” ujar Juda dalam konferensi pers APBN di Kantor Kemenkeu, Rabu (11/3/2026).

Juda menambahkan bahwa pemerintah terus menjaga keseimbangan antara ketersediaan kas dan fleksibilitas fiskal.

“Strategi pembiayaan dilakukan secara antisipatif, yaitu memastikan ketersediaan kas tetap memadai sekaligus menjaga fleksibilitas pembiayaan untuk merespons dinamika pasar yang sedang terjadi,” jelasnya.

Minat Investor Domestik dan Global Menguat

Mayoritas penarikan utang dilakukan melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar domestik.

Menariknya, kepercayaan pasar justru meningkat di tengah ketidakpastian global, terlihat dari rasio bid to cover (minat lelang) yang tinggi.

  • Surat Utang Negara (SUN): Rasio di atas 2 kali.

  • Surat Berharga Syariah Negara (SBSN): Rasio mencapai 3,1 kali.

“Bahkan dibanding tahun lalu, tahun ini lebih baik. Ini menunjukkan minat dan kepercayaan investor terhadap fundamental perekonomian kita masih terjaga di tengah dinamika pasar keuangan global yang sangat penuh dengan ketidakpastian,” kata Juda.

Di kancah internasional, pemerintah juga sukses menerbitkan obligasi dalam dua mata uang (Renminbi dan Euro) dengan tingkat imbal hasil (yield) yang kompetitif:

  • Offshore Renminbi (CNH): 9,25 miliar (yield 2–3%).

  • Euro: 2,7 miliar Euro (yield 4–5%).

“Ini di pasar global, dan yield yang cukup baik tersebut menunjukkan bahwa investor global sangat confident dengan fundamental ekonomi kita yang masih terjaga dengan baik,” tandasnya.

Peningkatan Pembiayaan Non-Utang

Selain mengandalkan utang, pemerintah mencatat lonjakan tajam pada sumber pembiayaan non-utang yang mencapai Rp21,1 triliun.

Angka ini naik drastis dari periode Februari 2025 yang hanya sebesar Rp3,9 triliun. Dengan kombinasi ini, total realisasi pembiayaan anggaran per Februari 2026 tercatat sebesar Rp164,2 triliun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *