FAKTAJATENG.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan rentetan bencana akibat cuaca ekstrem yang melanda berbagai wilayah Indonesia hingga Senin (13/4) pagi.
Rentetan kejadian mulai dari angin kencang, banjir, hingga tanah longsor dilaporkan merusak infrastruktur warga dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.
Eskalasi Cuaca Ekstrem di Pulau Jawa
Sepanjang akhir pekan lalu (11-12 April), angin kencang melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Di Kabupaten Semarang, angin kencang berdampak pada 28 jiwa di Desa Banaran.
Kejadian serupa di Kabupaten Grobogan mengakibatkan 24 rumah mengalami kerusakan ringan dan sebuah ruko terdampak.
Sementara itu, di Kabupaten Rembang, badai melanda Kecamatan Gunem yang merusak 10 rumah serta tiga tempat usaha.
Di wilayah Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Malang, dilaporkan ada satu unit rumah yang mengalami kerusakan berat akibat terjangan angin kencang di Desa Tanjungtirto.
Longsor di Purbalingga dan Banjir Pasuruan
Bencana tanah longsor akibat intensitas hujan tinggi terjadi di Kabupaten Purbalingga pada Minggu (12/4).
Kondisi tanah yang labil memicu pergerakan tanah yang fatal bagi warga setempat.
“Peristiwa ini menyebabkan satu orang meninggal dunia, satu orang luka ringan, serta 11 jiwa terdampak,” tulis laporan resmi BNPB.
Di saat yang sama, banjir besar melanda Kabupaten Pasuruan akibat meluapnya aliran sungai. Sebanyak 740 KK terdampak di enam desa dan satu kelurahan.
Meskipun di beberapa titik air mulai surut, BPBD setempat tetap disiagakan untuk mengantisipasi banjir susulan.
Dua Warga Hilang di Sulawesi
Di luar Pulau Jawa, banjir dilaporkan melanda Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, yang merendam 60 unit rumah. Namun, situasi lebih kritis dilaporkan terjadi di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Banjir yang menerjang Desa Sinoa mengakibatkan dua orang warga dilaporkan hilang dan hingga kini masih dalam proses pencarian oleh tim penyelamat.
Imbauan dan Kesiapsiagaan Masa Peralihan
Menyikapi peningkatan frekuensi bencana ini, BNPB meminta masyarakat dan pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapsiagaan, terutama selama masa peralihan musim yang memicu perubahan cuaca tidak menentu.
“Masyarakat diharapkan untuk terus memantau informasi cuaca terkini sebelum melakukan aktivitas luar ruang, menjaga kebersihan lingkungan terutama saluran air, serta menghindari aktivitas di area rawan bencana saat kondisi cuaca memburuk,” tegas BNPB.
Pemerintah daerah juga diimbau untuk memastikan penyebarluasan informasi peringatan dini sampai ke tingkat akar rumput guna meminimalkan risiko dampak bencana hidrometeorologi di masa mendatang.













