FAKTAJATENG.ID– Masyarakat nelayan di Dukuh Roban Barat, Desa Kedungsegog, Kecamatan Batang, Kabupaten Bandung kembali menggelar tradisi tahunan Sedekah Laut.
Agenda budaya ini diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil tangkapan laut serta ruang memperkuat kebersamaan masyarakat pesisir.
Kegiatan adat yang diisi dengan prosesi larung sesaji ke tengah laut ini turut mendapatkan dukungan kemitraan dari PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) selaku pemilik dan pengelola PLTU Batang.
General Manager Stakeholder Relations PT Bhimasena Power Indonesia, Aryamir H. Sulasmoro, menyatakan bahwa partisipasi perusahaan dalam agenda ini merupakan bagian dari komitmen operasional untuk menjaga keharmonisan dengan warga di sekitar wilayah kerja pembangkit listrik.
“Bagi PT Bhimasena Power Indonesia, keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari keandalan operasional pembangkit, tetapi juga dari kuatnya hubungan dan kepercayaan yang terbangun bersama masyarakat,” ujar Aryamir dalam keterangannya di Batang, Selasa (14/7/2026).
Baca Juga: Waspada! BMKG Terbitkan Peringatan Dini Banjir Rob di Pesisir Utara Jawa Tengah Hari Ini
Aryamir menambahkan, tradisi ini memuat nilai gotong royong yang kuat. Pihaknya berencana terus melanjutkan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang berfokus pada pemberdayaan komunitatif, mulai dari sektor lingkungan, pendidikan, kesehatan, hingga pelestarian kebudayaan lokal.
“Kami percaya bahwa keberlanjutan perusahaan berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, kami akan terus menghadirkan program-program yang memberikan manfaat nyata sekaligus memperkuat hubungan yang harmonis dengan masyarakat,” katanya.
Menggantungkan Hidup dari Hasil Laut
Apresiasi terhadap dukungan operasional ini disampaikan oleh panitia penyelenggara kegiatan, Eni Setiono.
Menurutnya, pemukiman nelayan di Roban Barat yang berbatasan langsung dengan aliran Sungai Roban mayoritas mutlak penduduknya mengandalkan pencaharian sebagai nelayan tangkap.
“Kami tinggal dan mencari nafkah di Dukuh Roban Barat, Desa Kedungsegog, yang letaknya berseberangan dengan Roban Timur dan hanya dipisahkan oleh aliran Sungai Roban. Sebagian besar masyarakat di sini menggantungkan hidup dari hasil laut,” jelas Eni.
Eni berharap pola komunikasi dan kolaborasi yang telah terbangun antara kelompok nelayan, perangkat pemerintah daerah, dan pihak swasta dapat terus dipertahankan demi menyokong perbaikan tingkat kesejahteraan ekonomi di pesisir Batang.
Makna Tradisi Larung Sesaji bagi Nelayan
Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Batang, Teguh Tarmudjo, menegaskan bahwa Sedekah Laut merupakan ritus sakral yang memiliki tempat khusus dalam kehidupan sosial masyarakat nelayan tradisional.
Melalui simbolisasi melarung sesaji, para nelayan menyampaikan harapan kolektif untuk keselamatan kerja di perairan.
“Kegiatan Sedekah Laut bagi masyarakat nelayan Roban Barat sebagai bentuk rasa syukur atas aktivitas melaut selama satu tahun terakhir yang diwujudkan melalui larung sesaji. Harapannya, di tahun-tahun mendatang para nelayan senantiasa diberikan keselamatan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan hasil tangkapan yang melimpah,” pungkas Teguh.
Baca Juga: TNI AL Evakuasi Jenazah Jurnalis Metro TV Usai Ledakan Kapal SAR di Tidore















