FAKTAJATENG.ID – Pemerintah Filipina mengambil langkah drastis menghadapi gejolak harga minyak dunia dengan menerapkan sistem kerja empat hari dalam sepekan bagi instansi pemerintah.
Kebijakan ini merupakan upaya darurat Presiden Ferdinand Marcos Jr untuk menekan konsumsi energi nasional di tengah memanasnya konflik bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS).
Langkah efisiensi ini diumumkan guna melindungi stabilitas ekonomi domestik dari dampak gangguan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz yang mengancam pasokan energi global.
“Kita adalah korban perang yang bukan pilihan kita. Tetapi kita (pemerintah) akan mengendalikan bagaimana kita akan melindungi rakyat Filipina,” tegas Presiden Marcos Jr dalam pernyataannya, Senin (9/3/2026).
Ancaman Lonjakan Harga dan Pengecualian Layanan
Presiden Marcos memperingatkan bahwa harga bahan bakar di dalam negeri diperkirakan akan melambung tinggi mulai pekan depan.
Estimasi kenaikan mencapai 7,48 peso untuk bensin, 17,28 peso untuk solar, dan 32,35 peso untuk minyak tanah per liter.
Meski demikian, kebijakan kerja empat hari ini tidak berlaku bagi petugas layanan garda depan.
Tenaga kesehatan, kepolisian, dan pemadam kebakaran tetap beroperasi penuh demi menjaga stabilitas keamanan dan pelayanan publik.
Paket Penghematan Energi Nasional
Selain memangkas hari kerja, pemerintah Filipina juga merilis serangkaian instruksi ketat untuk seluruh instansi negara:
Pemangkasan Konsumsi: Target penurunan penggunaan listrik dan BBM sebesar 10 hingga 20 persen.
Moratorium Kegiatan: Penghentian sementara studi banding, team building, dan perjalanan dinas non-esensial.
Digitalisasi Kerja: Mewajibkan pertemuan rutin dialihkan ke format virtual.
Intervensi Fiskal: Presiden meminta parlemen memberi kewenangan menurunkan cukai minyak jika harga minyak mentah dunia melampaui 80 dolar AS per barel.
Realita Harga Minyak Dunia
Kebijakan ini diambil saat harga minyak dunia telah menembus angka psikologis 100 dolar AS per barel.
Pada perdagangan Senin pagi, harga minyak mentah jenis Brent telah melonjak ke level 111,04 dolar AS per barel, sementara jenis WTI naik ke angka 107,40 dolar AS per barel.
Filipina, yang sangat bergantung pada impor minyak mentah dari Timur Tengah dan masih mengandalkan pembangkit listrik berbahan bakar minyak, kini berada dalam posisi siaga tinggi.
Sebagai jaring pengaman sosial, pemerintah juga tengah menyiapkan skema subsidi BBM dan bantuan tunai bagi sektor-sektor yang paling terdampak oleh guncangan harga ini.
Marcos menegaskan bahwa kebijakan ini bersifat sementara, namun belum menetapkan tenggat waktu berakhirnya aturan “darurat energi” tersebut.















