Ketegangan di Teluk Oman: Washington Tutup Akses Keluar-Masuk Dermaga Iran

/Dok. Ist

FAKTAJATENG.ID – Situasi keamanan di kawasan Teluk memasuki fase kritis setelah militer Amerika Serikat secara resmi mengumumkan rencana blokade total terhadap seluruh aktivitas pelayaran yang keluar-masuk pelabuhan Iran, mulai Senin (13/4).

Langkah drastis ini merupakan buntut dari kebuntuan perundingan damai yang digelar di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4) lalu.

Ruang Lingkup Blokade

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa operasi ini akan mengawasi ketat seluruh pergerakan kapal di kawasan Teluk dan Teluk Oman.

Washington menegaskan tidak akan ada pengecualian berdasarkan bendera negara kapal tersebut jika tujuannya adalah dermaga milik Iran.

“Blokade tersebut akan diberlakukan secara adil terhadap kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran,” tulis pernyataan resmi CENTCOM sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.

Meskipun melakukan blokade ketat, pihak Gedung Putih masih memberikan ruang bagi pelayaran internasional di jalur-jalur strategis guna mencegah kelumpuhan total perdagangan global.

“Pasukan CENTCOM tidak akan menghalangi kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menuju dan dari pelabuhan-pelabuhan non-Iran,” tegas pihak militer AS.

Reaksi Keras Iran dan Ancaman Militer

Teheran tidak tinggal diam menanggapi kebijakan tersebut.

Melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Iran memperingatkan bahwa tindakan Amerika Serikat tersebut merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan yang ada dan siap membalas dengan kekuatan militer.

Pihak Iran menilai kehadiran armada tempur asing yang terlalu dekat dengan wilayah kedaulatan mereka sebagai tindakan provokasi yang dapat memicu kontak fisik.

“Setiap kapal militer yang mendekat akan melanggar gencatan senjata AS-Iran yang seharusnya berlaku hingga 22 April dan ‘akan ditindak tegas’,” bunyi peringatan keras dari pihak Iran.

Situasi ini kini menjadi perhatian dunia internasional, mengingat ancaman tersebut muncul sebelum masa gencatan senjata resmi berakhir, yang berpotensi menyeret kawasan tersebut ke dalam konflik terbuka yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *