FAKTAJATENG.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Semarang melaporkan bahwa laju inflasi di wilayah Ibu Kota Jawa Tengah tetap berada dalam koridor aman meskipun terpapar tekanan musiman Idul Fitri 2026.
Sinergi antara pemerintah daerah, Bulog, dan pemangku kepentingan terkait dinilai efektif meredam lonjakan harga kebutuhan pokok.
Kepala BPS Kota Semarang, Rudi Cahyono, mengungkapkan bahwa inflasi bulanan (month to month) pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,37 persen.
Angka ini menunjukkan tren penurunan yang signifikan dibandingkan Februari 2026 yang sempat menyentuh 0,67 persen. Sementara itu, inflasi tahunan (year on year) berada di level 3,57 persen.
Pengaruh Kebijakan Energi dan Efek Basis Rendah
Rudi menjelaskan bahwa tingginya angka inflasi tahunan pada periode sebelumnya lebih disebabkan oleh faktor teknis kebijakan pemerintah, bukan semata-mata karena lonjakan harga barang secara liar di pasar.
“Tingginya inflasi yoy pada periode Februari 2026 lebih dipengaruhi oleh faktor low base effect atau efek basis rendah karena adanya kebijakan diskon tarif listrik sebesar 50 persen yang diberlakukan pemerintah,” jelas Rudi Cahyono, Senin (6/4/2026).
Menurutnya, secara fundamental, tekanan harga riil yang dirasakan masyarakat tidak setinggi gambaran statistik pada tahun sebelumnya, mengingat dampak diskon tarif listrik tersebut masih membayangi dinamika inflasi hingga Maret ini.
Stok Pangan Aman dan Harga Terjangkau
Di sisi lain, Pemerintah Kota Semarang memastikan bahwa stabilitas pangan selama Ramadhan hingga Lebaran tetap terjaga.
Kepala Bagian Perekonomian dan SDA Setda Kota Semarang, M. Luthfi Eko Nugroho, menegaskan bahwa intervensi pasar yang dilakukan melalui koordinasi lintas OPD membuahkan hasil positif.
“Alhamdulillah di sektor pangan, ketersediaan barang bisa dipastikan dan harganya masih terjangkau oleh masyarakat. Naik memang ada, tetapi tidak sampai pada level yang tidak bisa dijangkau,” kata Luthfi.
Pemerintah Kota Semarang terus menggencarkan operasi pasar dan memperkuat kerja sama dengan Bulog untuk melindungi daya beli warga dari guncangan musiman.
Langkah-langkah preventif ini diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi daerah pasca-perayaan hari besar keagamaan.
“Stabilitas ini diharapkan terus berlanjut pasca-Idul Fitri, seiring dengan normalisasi permintaan dan distribusi yang kembali lancar,” pungkasnya.
Dengan capaian inflasi Maret yang terkendali, Kota Semarang optimis transisi ekonomi menuju kondisi normal setelah puncak konsumsi Lebaran akan berjalan mulus tanpa disertai lonjakan harga yang ekstrem.















