FAKTAJATENG.ID – Tren gaya hidup sehat kini semakin berkembang di kalangan pekerja urban. Mulai dari diet populer hingga berbagai tantangan olahraga, masyarakat terlihat semakin peduli terhadap kesehatan.
Namun di balik meningkatnya tren tersebut, risiko kesehatan justru ikut meningkat, terutama akibat maraknya fenomena Infodemic.
Fenomena ini merujuk pada banjir informasi, baik yang benar maupun salah, yang membuat masyarakat kesulitan membedakan mana yang valid dan mana yang tidak.
World Health Organization juga telah menyoroti bahwa penyebaran informasi kesehatan yang tidak akurat, terutama melalui media digital dan sosial, dapat berdampak serius terhadap perilaku masyarakat.
Akibatnya, banyak pekerja dengan mobilitas tinggi justru terjebak dalam tren kesehatan instan yang tidak berkelanjutan. Alih-alih mendapatkan manfaat jangka panjang, sebagian dari mereka malah menghadapi risiko kesehatan baru akibat pola hidup yang tidak tepat.
Menanggapi kondisi tersebut, Allianz Indonesia menghadirkan inisiatif wellbeing dalam rangka momentum World Health Day dengan tema “Together for Health, Stand with Science”.
Program ini bertujuan mendorong masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat yang lebih realistis dan berbasis bukti ilmiah.
Dalam keterangan tertulis yang dikutip redaksi, Kamis (9/4/2026), Chief People & Culture Allianz Life Indonesia, Nina Hatumena, menekankan bahwa kesehatan sering kali baru menjadi perhatian ketika tren tertentu muncul atau saat kondisi tubuh mulai menurun.
“Pola pikir tersebut perlu diubah, karena hidup sehat seharusnya dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari, bukan sekadar mengikuti tren sesaat,” katanya.
Dalam inisiatif ini, Allianz menghadirkan Melanie Putria serta Rinta Agustiani Dwiputra sebagai narasumber untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.
Melanie menyoroti kesalahpahaman umum terkait aktivitas fisik sehari-hari.
Ia menjelaskan bahwa banyak orang menganggap aktivitas seperti berjalan atau melakukan pekerjaan rumah sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan olahraga.
Padahal, aktivitas tersebut tergolong Non-Exercise Physical Activity (NEPA), yang meskipun bermanfaat, tidak dapat menggantikan olahraga yang terstruktur dan terukur.
“Gaya hidup sehat harus dibangun melalui empat pilar utama, yaitu aktivitas fisik yang teratur, pola makan yang seimbang, istirahat yang cukup, serta manajemen stres yang baik,” ungkap Melanie.
Sementara itu, Rinta menyoroti bahwa tantangan utama saat ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kesalahan dalam memahami dan memilih informasi yang tepat. Banyak orang yang mengikuti tren diet tanpa mempertimbangkan kebutuhan tubuh, sehingga hasil yang diperoleh tidak bertahan lama, bahkan dapat berdampak negatif.
Ia mencontohkan fenomena efek yo-yo atau Yo-yo effect, yang sering terjadi akibat penerapan diet ekstrem. Dalam kondisi ini, berat badan dapat turun secara cepat, namun kembali naik dalam waktu singkat, bahkan lebih tinggi dari sebelumnya.
Melalui sesi edukasi “Trend vs Truth”, peserta diajak memahami berbagai tren kesehatan yang populer serta risiko yang mungkin muncul jika tidak dilakukan dengan benar. Beberapa pola diet yang dibahas antara lain diet rendah kalori ekstrem, diet keto, intermittent fasting, hingga juice fasting.
“Diet rendah kalori ekstrem, misalnya, memang dapat menurunkan berat badan dengan cepat. Namun, penurunan tersebut umumnya berasal dari massa otot dan cairan tubuh, bukan lemak, sehingga berisiko memperlambat metabolisme,” kata Rinta.
Sementara itu, lanjut dia, diet keto dapat memberikan manfaat dalam kondisi tertentu, tetapi berpotensi meningkatkan risiko kesehatan jika dilakukan tanpa pengawasan.
Intermittent fasting dinilai lebih aman jika dilakukan dengan tetap menjaga keseimbangan nutrisi, sedangkan juice fasting perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak mengganggu kebutuhan gizi tubuh.
Rinta juga menekankan bahwa pendekatan sederhana justru lebih efektif bagi pekerja urban, selama dilakukan secara konsisten. Beberapa kebiasaan yang dianjurkan antara lain mengonsumsi makanan seimbang, rutin berolahraga dengan kombinasi kardio dan latihan kekuatan, serta menjaga kualitas tidur.
Selain itu, ia juga menyarankan untuk melakukan micro-break setiap 90 menit guna mengurangi kelelahan, serta power nap selama 15–20 menit untuk membantu memulihkan energi dan fokus.
Pendekatan kesehatan berbasis sains tidak hanya terbatas pada gaya hidup, tetapi juga mencakup upaya pencegahan seperti imunisasi.
Data dari WHO menunjukkan bahwa imunisasi telah menyelamatkan sekitar 154 juta nyawa dalam 50 tahun terakhir, atau setara dengan enam nyawa setiap menit.
Hal ini menegaskan bahwa di tengah maraknya tren kesehatan, pendekatan berbasis bukti ilmiah tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kesehatan masyarakat. Terutama bagi kelompok usia produktif, konsistensi dalam menerapkan kebiasaan sehat menjadi kunci utama.
“Di tengah dunia kerja yang serba cepat, tren gaya hidup sehat mungkin akan terus berubah. Namun, kesehatan yang optimal hanya dapat dicapai melalui langkah-langkah sederhana, realistis, dan berbasis sains yang dilakukan secara berkelanjutan,” pungkas Rinta.















