FAKTAJATENG.ID– Buntut banjir bandang yang menerjang Taman Wisata Alam (TWA) Guci pada akhir Januari 2026, Pemerintah Kabupaten Tegal mendesak adanya perombakan total dalam tata kelola lereng Gunung Slamet.
Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman, menegaskan bahwa mitigasi bencana hidrometeorologi tidak bisa lagi dilakukan secara parsial oleh satu kabupaten saja.
Pernyataan tersebut disampaikan Ischak saat menerima kunjungan reses Komisi IV DPR RI di Kota Tegal, baru-baru ini. Menurutnya, kerusakan infrastruktur dan lumpuhnya ekonomi warga pascabencana menjadi sinyal keras bahwa kawasan hulu memerlukan penanganan yang menyeluruh.
Tiga Agenda Strategis: Dari Taman Nasional hingga Peringatan Dini
Bupati Ischak menekankan tiga poin krusial yang harus segera dieksekusi untuk menjaga ketangguhan kawasan lereng Slamet:
Baca Juga: Menkeu Pastikan Kas Daerah Terdampak Bencana di Sumatera Aman
Integrasi pengelolaan lintas kabupaten di seluruh lereng Gunung Slamet
Pembentukan Taman Nasional untuk mengunci fungsi ekologis dan mencegah alih fungsi lahan.
Modernisasi sistem peringatan dini (early warning system) berbasis teknologi di kawasan wisata.
“Pemerintah daerah telah melakukan langkah cepat, mulai dari penanganan darurat hingga normalisasi sungai. Namun, ketangguhan kawasan ini membutuhkan sinergi jangka panjang dengan pemerintah pusat,” tegas Ischak.
Ia menambahkan bahwa status Taman Nasional merupakan langkah strategis untuk melindungi wilayah penyangga seperti Guci dari ancaman bencana di masa depan.
“Kami mendukung penuh pembentukan taman nasional sebagai langkah strategis untuk menjaga fungsi ekologis, mencegah alih fungsi lahan, serta memperkuat mitigasi bencana bagi wilayah penyangga seperti Guci,” imbuhnya.
Respon DPR RI dan Rencana Reboisasi
Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), menyambut baik usulan tersebut dan menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk merumuskan rehabilitasi kawasan.
“Kehadiran kami melalui kunjungan kerja ini sekaligus untuk menginisiasi diskusi bersama pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan guna merumuskan strategi penanganan, rehabilitasi, serta penguatan mitigasi agar kejadian serupa dapat diminimalisasi di masa mendatang,” ujar Titiek.
Kunjungan yang melibatkan Perhutani dan BKSDA ini menghasilkan beberapa catatan teknis, termasuk rencana reboisasi masif di kawasan Guci serta penataan ulang sumber mata air panas dan Pancuran Tiga Belas.
Normalisasi Air Panas Jelang Lebaran
Sebagai langkah konkret jangka pendek, Pemkab Tegal kini memprioritaskan percepatan penyambungan kembali pipa air panas di Guci sebelum libur Idulfitri 2026.
Hal ini dilakukan untuk memulihkan kepercayaan investor dan pelaku usaha wisata yang terdampak banjir.
Selain itu, Pemkab Tegal menawarkan skema kerja sama baru dengan BKSDA melalui PDAM sebagai operator pengelolaan air.
Tujuannya agar pemanfaatan air lebih tertata, kebutuhan masyarakat terakomodasi, namun tetap memenuhi kewajiban Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Baca Juga: Hasil Sidang Isbat: Puasa 2026 Dimulai 19 Februari













