Daerah  

Menyimpul Silaturahmi dalam Lopis Raksasa: Tradisi Syawalan 2026 di Krapyak Pekalongan

/Dok. Antara Jateng

FAKTAJATENG.ID – Aroma ketan kukus yang berpadu dengan gurihnya kelapa parut mulai menyerbak di sepanjang gang Kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara.

Bagi masyarakat setempat, Lebaran belum benar-benar usai sebelum pemotongan Lopis Raksasa dilakukan.

Tradisi ikonik ini kembali digelar sebagai puncak Pekan Syawalan 2026 yang jatuh pada Sabtu (28/3/2026).

Sejak H+2 Idulfitri, warga Krapyak Kidul Gang 8 (Gang Sembawan) telah bahu-membahu menyiapkan lopis berukuran fantastis.

Tak tanggung-tanggung, lebih dari lima kuintal beras ketan diolah menjadi satu kesatuan lopis raksasa yang melambangkan kekokohan persaudaraan.

Prosesi Panjang Penuh Kesabaran
Memasak lopis raksasa bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan ketelitian dan stamina ekstra karena prosesnya memakan waktu hingga tiga hari penuh.

Hal ini ditegaskan oleh Humas Festival Lopis Raksasa, Iwan Kurniawan, yang memantau langsung tahapan produksi sejak awal pekan.

“Pembuatan dimulai hari Senin pukul 06.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Kemudian dilanjutkan lagi hingga malam berikutnya untuk proses pembalikan dan nantinya akan dilakukan pengentasan,” jelas Iwan terkait durasi memasak yang mencapai 3 x 24 jam tersebut.

Proses perebusan yang sangat lama ini bukan sekadar teknik kuliner, melainkan simbol kesabaran dan ketekunan—dua nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh masyarakat pesisir Pekalongan.

Filosofi di Balik Bungkus Daun Pisang
Lopis bukan sekadar panganan pengganjal perut. Dalam tradisi Jawa pesisir, lopis dimaknai sebagai lepat atau pengakuan kesalahan.

Sifat ketan yang lengket setelah matang (kraket) menjadi representasi eratnya tali silaturahmi antarwarga setelah saling memaafkan di hari fitri.

Setiap elemennya memiliki makna:

  • Warna Putih: Simbol kesucian hati.
  • Bungkus Daun Pisang: Perlambang kemakmuran dan ajaran Islam yang menaungi kehidupan.
  • Tali Pelepah Pisang: Simbol kekuatan ikatan persaudaraan agar tidak luntur setelah Ramadan usai.

Warisan Ulama dan Potensi Wisata
Sejarah mencatat tradisi ini dipelopori oleh KH Abdullah Sirodj, seorang ulama keturunan Tumenggung Bahurekso.

Awalnya, tradisi ini muncul untuk menghormati warga yang menjalankan puasa sunah Syawal selama enam hari, sehingga perayaan silaturahmi besar baru dilaksanakan pada hari kedelapan Syawal.

Wali Kota Pekalongan, Afzan Arslan Djunaid, berharap tradisi yang sudah berusia lebih dari seabad ini terus dijaga kemurniannya.

Ia mengingatkan agar nilai budaya ini tidak bergeser menjadi sesuatu yang bersifat syirik, melainkan tetap menjadi sarana penghadir keberkahan.

“Tradisi lopisan justru menjadi warisan budaya yang menghadirkan keberkahan dan kebahagiaan, khususnya bagi warga Krapyak sebagai tuan rumah,” ujar Afzan Arslan Djunaid.

Selain sebagai ajang perekat sosial, Pemerintah Kota Pekalongan juga memproyeksikan Festival Lopis Raksasa sebagai aset pariwisata unggulan yang mampu menggerakkan roda ekonomi kreatif dan meningkatkan pendapatan asli daerah melalui kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *