Daerah  

Banjir Terjang 16 Desa di Grobogan: 3.176 Keluarga Terdampak, Kecamatan Kedungjati Terparah

FAKTAJATENG.ID – Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Grobogan sejak Kamis (2/4) sore mengakibatkan banjir luapan di sejumlah titik.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Grobogan mencatat sedikitnya 3.176 keluarga terdampak dan belasan rumah mengalami kerusakan akibat bencana ini.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Grobogan, Wahyu Tri Darmawanto, mengungkapkan bahwa banjir mulai melanda pada Kamis malam dan tersebar di lima kecamatan utama.

“Banjir yang terjadi di 16 desa pada Kamis (2/4) malam tersebar di lima kecamatan, yakni Kecamatan Kedungjati, Tanggungharjo, Gubug, Tegowanu, dan Purwodadi,” ujar Wahyu di Grobogan, Jumat (3/4).

Penyebab dan Sebaran Wilayah Terdampak
Banjir dipicu oleh hujan lebat berdurasi enam jam (pukul 15.00 – 21.00 WIB) yang diperparah dengan kiriman air dari hulu Sungai Tuntang dan Sungai Serang. Hal ini menyebabkan debit air melonjak drastis dan meluap ke permukiman.

Kecamatan Kedungjati menjadi wilayah dengan dampak paling masif. Sebanyak 2.102 KK di sembilan desa terdampak dengan ketinggian air mencapai 50 cm. Sembilan desa tersebut meliputi Wates, Kalimaro, Jumo, Padas, Deras, Klitikan, Ngombak, Kedungjati, dan Kentengsari.

“Selain merendam rumah warga, banjir juga menyebabkan 11 rumah mengalami kerusakan ringan, terutama di Desa Ngombak dan Desa Kedungjati,” tambah Wahyu.

Rincian dampak di kecamatan lainnya meliputi:

Kecamatan Gubug: 814 keluarga terdampak di Desa Penadaran dan Ringinharjo dengan ketinggian air hingga 60 cm.

Kecamatan Tegowanu: Sekitar 200 rumah di Desa Sukorejo dan Tanggirejo terendam, termasuk fasilitas pendidikan SD Negeri 2 Sukorejo.

Kecamatan Tanggungharjo: Luapan Sungai Kliteh berdampak pada 60 keluarga di Desa Sugihmanik dan menghambat akses jalan Gubug-Kedungjati.

Kecamatan Purwodadi: Genangan setinggi 25 cm terpantau di ruas jalan Danyang-Pengkol, Desa Candisari.

Penanganan Darurat dan Kondisi Terkini
BPBD Grobogan telah bergerak cepat dengan mengirimkan bantuan logistik berupa karung pasir dan alas terpal untuk penanganan darurat. Di Desa Ringinharjo, petugas bersama warga melakukan kerja bakti peninggian tanggul Sungai Tuntang secara swadaya guna mencegah luapan susulan.

Meski sebagian besar wilayah dilaporkan sudah mulai surut, otoritas terkait meminta masyarakat untuk tidak lengah.

“Sebagian besar genangan air telah surut sehingga warga mulai kembali beraktivitas. Namun masyarakat tetap diimbau meningkatkan kewaspadaan mengingat potensi hujan masih dapat terjadi,” tegas Wahyu Tri Darmawanto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *