Daerah  

Kasus Minyakita Berbau Minyak Tanah Meluas di Jateng, Polisi Periksa Saksi dan 300 Ton Produk Ditarik

Bulog bersama pemerintah daerah setempat membuka layanan penukaran langsung guna menjamin kelayakan konsumsi warga./Instagram

FAKTAJATENG.ID — Kasus temuan produk minyak goreng subsidi “Minitakita” yang diduga mengeluarkan aroma menyerupai minyak tanah atau solar dilaporkan meluas di beberapa wilayah Jawa Tengah.

Setelah pertama kali mencuat di Kabupaten Wonogiri, keluhan serupa kini muncul di Kabupaten Klaten, Karanganyar, hingga Sragen.

Peristiwa ini telah ditindaklanjuti dengan penarikan produk secara massal, penukaran minyak goreng oleh Bulog, pemeriksaan oleh pihak kepolisian, serta investigasi laboratorium oleh pihak produsen.

Kasus ini pertama kali teridentifikasi pada pertengahan Juni 2026 di Kelurahan Gesing, Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri.

Bantuan pangan yang disalurkan kepada 1.203 keluarga penerima manfaat (KPM) tersebut dikeluhkan warga karena memengaruhi rasa masakan.

“Setelah dibuka dan dipakai memasak, hasil masakannya rasanya agak aneh. Seperti ada rasa minyak tanah atau solar,” ujar Lurah Gesing, Jamari, dikutip dari Tribun Jateng, Minggu (28/6/2026). Setelah laporan tersebut diterima, seluruh Minyakita yang bermasalah ditarik untuk diganti oleh pihak penyedia.

Penyelidikan di Karanganyar dan Penukaran Massal di Sragen

Dampak temuan ini meluas ke wilayah lain. Di Kabupaten Karanganyar, Kepolisian Resor (Polres) setempat mulai melakukan penyelidikan dengan memeriksa lurah, perangkat kelurahan, ketua RT, hingga sejumlah warga penerima bantuan.

“Akan kami lihat hasil pemeriksaan tersebut, akan kami kembangkan,” kata Kasat Reskrim Polres Karanganyar, AKP Wikan Sri Kadiyono.

Sementara itu, di Desa Gading, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, warga mendatangi kantor desa untuk menukarkan Minyakita paket bantuan. Pemerintah desa setempat bekerja sama dengan Bulog membuka posko penukaran setelah menerima laporan dari masyarakat.

Baca Juga: IKAPPI: Zulkifli Hasan Gagal Kelola Pangan

Hingga Minggu (28/6/2026) siang, tercatat sedikitnya 83 warga telah menukarkan minyak goreng mereka. Salah satu warga desa, Iswarni (46), menyatakan kualitas makanan berubah setelah mengolah pangan dengan minyak tersebut.

“Saya coba buat masak nasi goreng sama tahu bakso, rasanya tidak enak, di lidah seperti kering, tenggorokan nyegrak,” ucap Iswarni.

Produsen Tarik 300 Ton dan Selidiki Jalur Distribusi

Merespons temuan di empat kabupaten tersebut, PT Kusuma Mukti Remaja (PT KMR) selaku produsen Minyakita mengambil langkah penarikan produk di pasar dan paket bantuan untuk diganti dengan stok baru.

Direktur PT KMR, Joko Mukti Wijaya, menjelaskan bahwa manajemen tengah melakukan investigasi internal dan menunggu hasil uji laboratorium untuk mengidentifikasi sumber masalah eksternal.

“Kemungkinan ada terkontaminasi di penyimpanan atau pengangkutan. Kita masih investigasi sambil menunggu hasil lab (laboratorium). Hasil lab itu mungkin (keluar) satu, dua minggu,” kata Joko Mukti Wijaya saat dikonfirmasi, Jumat (26/6/2026).

Joko menyebutkan, total produk yang ditarik dari peredaran sebagai langkah antisipasi mencapai sekitar 300 ton, meskipun estimasi produk yang terindikasi mengalami masalah aroma hanya sekitar 100 ton.

Pihak perusahaan menyatakan komitmennya untuk menanggung biaya pengobatan jika ada warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat mengonsumsi produk tersebut.

Manajemen juga menegaskan bahwa temuan ini bersifat lokal pada produk bantuan pangan, sementara stok Minyakita komersial yang beredar di pasar reguler dipastikan tetap aman.

Baca Juga: DPR Minta Pemerintah Tindak Tegas Produsen Minyakita yang Nakal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *